Menarik mencermati tulisan Yayat Hendayana di HU Pikiran Rakyat (20/2), ”Sunda, Menggapai-gapai Masa Depan” yang berangkat dari apresiasi terhadap latar diselenggarakannya seminar internasional tentang Reformasi dan Transformasi Kebudayaan Sunda, 9 dan 10 Februari 2011, di Jatinangor oleh Fakultas Sastra Unpad. Intinya Kang Yayat masih tetap melihat isu lama Ki Sunda sebagai entitas suku yang masih berada dalam kondisi terpuruk padahal Sunda adalah suku terbesar kedua setelah Jawa.
Hasil survei sosial ekonomi daerah (Suseda) 2009, menunjukkan dari 42.693.951 penduduk Jawa Barat, jumlah orang Sunda mencapai angka 74,6 persen atau 31,84 juta jiwa.Rendahnya tingkat produktivitas dan daya saing orang Sunda, baik secara regional maupun secara nasional, disebabkan kelemahan orang Sunda sendiri. Kemudian Kang Yayat menawarkan jalan keluar berupa reformulasi kebudayaan Sunda yang terdiri dari langkah-langkah (1) reseleksi, (2) redefinisi, (3) reorientasi, dan (4) reimplementasi.
Catatan saya adalah tanggapan tambahan dan ini nyaris absen dari telaah Kang Yayat padahal sangat penting dalam melihat Ki Sunda, yakni strategi dialog kebudayaan dari dua arah: luar dan dalam. Ini menjadi penting supaya gambaran Ki Sunda ke depan menjadi jelas bukan sekadar terus “menggapai-gapai”, apalagi sekadar terhipnotis kebanggaan masa lampau yang seolah mendapatkan tautan “ ilmiahnya” dari Prof. Arysio Santos dalamAtlantis The lost Continent Finnaly Found, serta buku Prof. Stephen Oppenheimer dari Oxford University yang berjudul Eden in The East
Sudah tidak disangsikan lagi bahwa kekayaan dan kejayaan sebuah budaya mengandaikan terpenuhinya dua hal. Pertama ke dalam dengan militansi pertahanan untuk melestarikan budaya yang dimiliki sekaligus pewarisan kepada generasi setelahnya; kedua, ke luar dengan cara mendialogan budaya yang miliki dengan budaya orang lain untuk mencari kemungkinan terciptanya akulturasi sehingga peluang pengkayaaan sebuah budaya menjadi terbuka.
Strategi dalam-luar ini mensyaratkan untuk dilakukan secara dialektis, sebab ketika salah satu saja yang digarap maka ketimpangan yang akan muncul. Ke dalam saja misalnya maka akan mengemuka apa yang disebut dengan budaya kurung batokeun yang pada gilirannya tidak akan mampu mengantisipasi serbuan budaya luar. Atau terus membuka jendela dari luar tanpa ada pertahanan budaya sendiri maka inilah yang akan rentat terjangkit apa yang dinamakan dengan jati ki silih ku junti.
Kearifan lama
Kalau kita membaca kearifan tradisional sesungguhnya ke dua agenda strategi ini dengan menakjubkan telah diperagakan manusia Sunda dahulu bahkan kebudayaan Sunda itu sendiri adalah merupakan hasil pergulatan akulturatif dengan Animisme, Dinamisme, Hindu, Budha, tradisi Jawa dan Islam. Sunda bukan datang dari langit secara tiba-tiba.
J. C. van Leur menyebut bahwa Hinduisme membantu mengeraskan bentuk-bentuk kultural suku Sunda. Khususnya kepercayaan magis memiliki nilai absolut dalam kosmologi orang Sunda. Kalau kita sepakat bahwa Haji Hasan Mustapa adalah filosuf Sunda terkemuka maka sesungghnya letak otentisitas refleksi pikirannya itu tidak semata digali dari budayanya sendiri (Sunda) tapi adalah buah ”dialog peradaban”: korespondensi dengan budaya luar dalam hal ini Arab yang kemudian horizon Arab itu didaur ulang serta disenyawakan dengan leuit budaya Sunda sehingga lahirlah makna baru yang mencerahkan yang dapat kita klaim sebagai budaya Sunda.
Bagi Hasan Mustapa, ketika kita melakukan ziarah budaya kepada bangsa lain, maka hal ini tidak kemudian otomatis larut dalam budaya itu dan kehilangan baju kultural yang kita pakai atau pindah cai pindah pilempangan tapi justru ‘orang lain’ dengan segala kekhasan kulturalnya adalah jembatan untuk memperluas horizon budaya yang kita miliki. Dalam istilahnya, kita hanya sebatas ”nguyang”.
Multikulturalisme
Multikulturalisme yang notabene merupakan fakta sosial yang tidak mungkin kita hindari sesungguhnya adalah kesempatan bagi setiap kultur untuk saling memberikan makna dengan pintu masuk dialog itu. Dialog lintas kultural menjadi sebuah keniscayaan. Dialog seperti ini hanya dimungkinkan manakala antar budaya yang berbeda dapat memperlakukan satu sama lain secara setara, tidak tersembunyi hasrat saling mendominasi dan beranggapan yang satu inferior dan yang lain superior.
Dialog budaya akan tidak memiliki makna ketika sebermula sudah dengan jumawa menobatkan diri sebagai yang paling baik. Moderatisme (siger tengah) dalam keterbukaan dialog etnik, inilah yang musti dikedepankan untuk menggapai Sunda masa depan.
Dalam tafsir Ignas Kleden, “Kebudayaan adalah satu proses linking dan delinking sekaligus. Saya menghubungkan diri dengan satu nilai, tapi saya juga bisa mengambil jarak dari nilai itu untuk masuk ke dalam nilai yang lain. Saya menghubungkan diri dengan sistem nilai, tapi saya juga berusaha melepaskan diri dari jebakan sistem nilai saya supaya saya bisa mengerti sistem nilai yang lain sementara waktu dengan benar.” Lanjut Ignas, “Biarpun kita baru belajar di dalam kebudayaan kita, tapi kalau kita memasuki kebudayaan yang lain, sebetulnya kita dituntut untuk mempelajari kembali. Itu berarti melakukan proses melupakan dulu apa yang sudah kita pelajari di dalam kebudayaan kita,” kata Ignas Kleden.
Fenomena keagamaan
Tentu saja, karena agama merupakan bagian dari sistem budaya, maka agama juga tidak kedap untuk didialogan. Justru intensitas dialog agama harus ditingkatkan sebab dalam sejarahnya keragaman agama kerap menjadi pemantik munculnya konflik.
Semakin sering dialog dilakukan, akan kian lebar pelung terciptanya keadaban. Sebaliknya, manakala absen maka kehidupan menjadi sangat tidak layak untuk dirayakan karena akan sangat sarat ketidaksantunan, intoleran, radikalisme dan penistaan kepada ‘mereka yang berbeda’ dan akhirnya akan muncul anggapan bahwa ‘orang/suku lain’ yang berbeda sebagai neraka seperti ditulis Jean paul Sartre (L’enfer c’est les autres: neraka adalah orang lain). Orang lain (suku lain) tidak disikapi sebagai bagian tak terpisahkan dari diri kita yang mempunyai tanggungjawab sama dalam ikhtiar membentuk peradaban yang egalitarian. Dialoglah yang akan menjadi jendela bagi tergelarnya apa yang disebut Gabriel Marcel dengan ’persekutuan tuntas’ di mana aku bertemu engkau menjadi kita di mana, “Kesempatan-kesempatan dan pertemuan dengan orang lain bukanlah merupakan fakta yang kontingen (jadi yang bersifat ada dan boleh tidak ada) melainkan fakta yang inheren pada cara kita bereksistensi yaitu berada di dunia, hidup di dunia” (Mathias Haryadi, 1999).
Dialoglah yang akan membuat Ki Sunda bisa memahami alasan mengapa membutuhkan suku/orang lain untuk dijadikan sekutu. Dialog menjadi syarat mutlak agar bisa bereksistensi. Kita membutuhkan L’autrui supaya kita mampu menjadi diri sendiri. Maksudnya, agar ki Sunda mengenal eksistensi dan keunikannya, perlulah ‘keluar dari diri’. Ini hanya mungkin kalau kita tidak menutup diri, melainkan harus berani mengenal dan dikenal suku lain, harus saling memahami dengan sikap empatik.
Dialog ini perlu saya beri catatan khusus kaitannya dengan kesundaan, karena dalam sepuluh tahun terakhir diakui atau tidak di tatar Sunda banyak terjadi kekerasan termasuk yang mengatasnamakan agama yang relatif tidak memberi peluang bagi tumbuhnya sikap toleran bahkan cenderung mempoisiskan ‘yang lian’ sebagai tersesat. Belum lagi aliran dengan agenda politik ideologis tersembunyi yang bergerak di bawah tanah yang lagi-lagi menjadikan Jawa Barat sebagai basis perjuangannya.
Seandainya penelitian Santos dan Oppenheimer, yang menunjukan tentang kehebatan masa silam etnik Sunda benar dan mengapa kini Ki Sunda mengalami degradasi sedemikian tajam dalam pergaulan antaretnis di tingkat nasional? Maka salah satu jawabannya Kang Yayat, adalah absennya tradisi dialog dan lebih luas lagi punahnya atmosfer intelektualisme di tanah Pasundan.
Kamis, 25 Agustus 2011
FESTIVAL DONGDANG PESTA RAKYAT BOGOR
Dongdang sendiri adalah kata dalam bahasa Sunda yang berarti wadah tempat hantaran barang yang dihias dan ditata seapik mungkin. Hantaran biasanya dibawa ketika ada hajatan atau peristiwa istimewa lain, maupun ritual adat tertentu, di mana makanan atau barang akan dipersembahkan kepada orang atau keluarga terhormat.
Dongdang berisi hasil bumi, produk kerajinan, serta makanan siap santap akan dipikul dan diarak sepanjang Jalan Raya Tegar Beriman, salah satu jalan utama di Cibinong, Bogor dengan diiringi kesenian musik khas Sunda.
Pemerintah daerah setempat telah mencanangkan festival ini sebagai bagian dari program "Visit Bogor 2011" yang tujuannya tentu saja menyuntikkan gairah hingga memajukan pariwisata daerah Bogor. Festival ini sendiri diharapkan dapat melibatkan sejumlah 2000 buah dongdang dari desa-desa di 40 wilayah kecamatan tersebut.
Saat itu juga secara resmi ditampilkan maskot Visit Bogor 2011 yakni Manuk Urang dan logonya, Kupu-kupu. Tagline Visit Bogor 2011 adalah Bogor - Land of Harmony.
KAIN TENUN BADUY SEBAGAI AMALAN TAPA
Dalam hal kehidupan duniawi, masyarakat Kanekes biasa berucap “sare tamba teu tunduh, madang tambah teu lapar, make tamba teu talanjang” artinya tidur sekedar pelepas kantuk, makan sekedar pelepas lapar, berpakaian sekedar tidak telanjang. Ungkapan tersebut sejalan dengan ajaran Sanghyang Siksakandang Karesian atau isi Kropak 630 “jaga rang hees tamba teu tunduh, nginumn twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan” artinya ingat kita tidur untuk sekedar pelepas kantuk, minum tuak sekedar pelepas haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah kita berlebihan. (Atja dan Saleh Danasasmita)
Kesamaan ucapan itu menunjukkan bahwa Kanekes masih mempunyai kaitan erat dengan tradisi masyarakat Sunda kuno. Kesederhanaan itu bukan disebabkan oleh ketidakmampuan ekonomi melainkan oleh ajaran hidup yang dianutnya. Untuk masyarakat Baduy kesederhanaan itu merupakan kewajiban yang harus dicoba diwujudkan dalam perilaku dan kenyataan hidup sehari-hari, karena perbuatannya sehari-hari itulah yang menjadi tapa masyarakat Baduy (iya twah iya tapa), sedangkan tapa itu menurut keyakinan mereka yang harus ditempuhnya. Sebagai masyarakat Baduy meninggalkan kesederhanaan berarti batal tapanya.
Kerja itu sama dengan tapa. Itulah makna perbuatan baik kepada kita. Buruk perbuatan buruklah tapa, cukup berbuat akan cukuplah tapa sempurna perbuatan akan sempurnalah tapa, karena perbuatan itu pulalah masyarakat Baduy berhasil dalam tapa. Makna dari tapa ialah orang harus tekun kerja (berladang), membuat benda keperluan sehari-hari, tidak bersaing antara sesama dan tidak hidup berlebihan semuanya sudah diatur karuhun.
Tidak ada hari tanpa bekerja baik pria maupun wanita, sesuai dengan posisi masyarakat Baduy, itulah makna dari tapa. Pria Baduy bekerja di ladang sedangkan wanita membuat kain tenun di rumah. Pekerjaan membuat tenun dilakukan pada saat menunggu waktu luang setelah para wanita Baduy mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kegiatan membuat kain tenun merupakan bentuk amalan tapa, karena membuat kain tenun merupakan pemenuhan kebutuhan sandang. Kain tenun yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan sandang dibuat sangat sederhana dengan hanya menggunakan motif geometris.
PERKEMBANGAN RAGAM BATIK SUNDA
Batik Jawa Barat banyak menyerap pengaruh dari lingkungan sekitarnya, terutama Jawa Tengah, serta negara lain, seperti Arab, India, dan China. Corak, ragam, dan motif batik provinsi ini berjumlah lebih dari 3.000 jenis. Kebanyakan mengambil unsur kehidupan alam sekitar dan budaya tradisional.
Masyarakat Jabar sebenarnya sudah mengenal ragam corak kain dan batik sejak awal abad ke-16. Hal itu tertulis dalam naskah "Siksa Kandang Karesian" yang menyebutkan berbagai macam corak lukisan (tulis) dan kain. Meski tak ada peninggalan ragam kain atau batik masa itu, di Tatar Sunda ditemukan beberapa helai kain batik berusia sekitar 200 tahun.
Keberadaan batik kuno tak bisa dilepaskan dari kedatangan para pengungsi Perang Diponegoro tahun 1825-1830. Sebagian pengungsi adalah pembatik dari wilayah Banyumas, Jawa Tengah. Mereka memberikan pengaruh terhadap ragam dan corak batik di Tatar Sunda, khususnya Ciamis, Indramayu, dan Tasikmalaya.
Meski batik tumbuh sejak awal abad ke-19, kegiatan membatik di provinsi ini berkembang pesat pada abad ke-20, terutama di Cirebon, Indramayu, Ciamis, Tasikmalaya, dan Garut.
Di Cirebon, batik berkembang di Trusmi, sementara di Indramayu di Paoman. Batik di Tasikmalaya berkembang di Kecamatan Sukaraja dan Cipedes, sedangkan di Garut di Kecamatan Tarogong. Setiap daerah mempunyai corak dan motif tersendiri yang khas sehingga timbul sebutan trusmian, darmayon, tasikan, dan garutan.
Motif batik indramayu, misalnya, banyak mengambil unsur flora dan fauna yang menjadi ciri khas daerah pesisir. Batik indramayu umumnya sederhana, lugas, dan naturalis, tidak berpijak pada pakem-pakem tertentu seperti batik solo dan yogyakarta. Sementara itu, batik tasikmalaya tidak mengenal kelas dan status sosial.
Hal itu sesuai dengan keadaan sosial masyarakat Tasikmalaya yang tidak membedakan status sosial. Batik cirebon berkembang lebih tua seiring dengan perkembangan Kesultanan Cirebon. Motif batik cirebon banyak dipengaruhi ragam hias dari China, India, dan Arab. Hal ini terkait dengan sejarah Cirebon yang menjadi kota pelabuhan penting pada abad ke-15. Adapun motif garutan mengambil tema kehidupan masyarakat sehari-hari, antara lain kendi, capung, kupu-kupu, anyaman bambu, dan kurungan ayam.
BEDOG SUNDA
Jenis atau bentuk golok (bedog ) sunda sangat beragam, karena tiap daerah di Tatar Sunda memiliki variasi bentuk tersendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan, fungsi, dan karakteristik masing-masing masyarakat penggunanya.
Di Tatar Sunda ditemukan beberapa bentuk golok dengan nama yang sama namun bentuknya berbeda di daerah lain, serta sebaliknya bentuk golok yang sama tetapi memiliki sebutan nama yang berbeda di lain daerah.Pada tulisan ini nama sebutan dan bentuk golok menggunakan data dari golok sunda yang ada di Ciwidey Kabupaten Bandung Jawa Barat.
Berdasarkan kegunaan golok sunda dapat dibedakan menjadi dua, yaitu golok pakai/bedog gawé /pakakas, selanjutnya disebut dengan bedog gawé, dan golok sorén/golok silat/pakarang, selanjutnya disebut golok pakarang. Golok yang berupa pakarang digunakan untuk beladiri/berkelahi (silat) atau setidaknya sebagai ganggaman (pegangan) yang di-sorén dipinggang oleh para pendekar atau jawara (Banten, Betawi), oleh karena itu selalu memakai sarangka (sarung). Sedangkan bedog yang berupa pakakas ada yang memakai sarangka dan ada pula yang tidak.
Bedog Gawé
Berdasarkan fungsi dan penggunaannya bedog gawé dapat dikelompokkan menjadi :
Bedog Daging / Dapur
Bedog Kalapa
Bedog Pamilikan
Bedog Kebon
Bedog Sadap
Bedog Pamoroan
Golok Pakarang
Tidak ada perbedaan bentuk antara wilah bedog gawe dengan golok pakarang. Namun Golok pakarang selalu dilengkapi sarangka agar golok dapat di-soren. Golok pakarang umumnya dibuat sesuai dengan keinginan pemesannya, dibuat lebih halus, dan dihias (diberi ukiran).
Pakarang adalah senjata-senjata yang dibuat khusus untuk para raja dan petinggi-petinggi di lingkungan kerajaan. Dalam pembuatan pakarang tentu menggunakan bahan terbaik dan teknik khusus. Ciri fisik dari pakarang yang mudah terlihat adalah pamor pada bilah pakarang seperti keris, kujang dan golok. Pamor adalah bentuk logam hasil olahan dari pencampuran sejumlah jenis logam yang berbeda, yang ditempa dan dilipat menjadi satu sehingga menghasilkan tekstur/pola tertentu pada permukaannya. Pakarang yang menggunakan besi pamor akan lebih kuat dan awet karena besi hasil olahan ini telah ’matang’ dibandingkan dengan besi/ logam biasa. Unsur estetika pada golok pakarang lebih diperhatikan dibandingkan dengan bedog gawe yang lebih mengutamakan unsur fungsi. Penekanan pada unsur estetika atau ornamen tentunya sedikit banyak mengurangi fungsionalitas golok sebagai perkakas.
Golok pakarang berpamor tidak dijumpai sebanyak keris dan kujang, kemungkinan bentuknya yang besar dan sederhana kalah artistik dengan kujang dan keris, sehingga tidak banyak dibuat. Namun golok berpamor yang disebut dengan golok sulangkar masih dibuat dan dapat jumpai terutama di Ciomas Banten, walaupun pembuatannya hanya setahun sekali yaitu pada tanggal 14 Maulud penanggalan Islam.
KUJANG
Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram.
Kujang merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata.
Menurut Sanghyang siksakanda ng karesian pupuh XVII, kujang adalah senjata kaum petani dan memiliki akar pada budaya pertanian masyarakat Sunda
Deskripsi
Kujang dikenal sebagai senjata tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti[siapa?] menyatakan bahwa istilah "kujang" berasal dari kata kudihyang (kudi dan Hyang. Kujang (juga) berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi.
Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit[rujukan?]. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406). Sementara itu, Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.
Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.
Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.
"Segala macam hasil tempaan, ada tiga macam yang berbeda. Senjata sang prabu ialah: pedang, abet (pecut), pamuk, golok, peso teundeut, keris. Raksasa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk membunuh. Senjata orang tani ialah: kujang, baliung, patik, kored, pisau sadap. Detya yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengambil apa yang dapat dikecap dan diminum. Senjata sang pendeta ialah: kala katri, peso raut, peso dongdang, pangot, pakisi. Danawa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengerat segala sesuatu, Itulah ketiga jenis senjata yang berbeda pada sang prebu, pada petani, pada pendeta. Demikianlah bila kita ingin tahu semuanya, tanyalah pandai besi."
— Sanghyang siksakanda ng karesian pupuh XVII.
Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.
Bagian-bagian Kujang
Karakteristik sebuah kujang memiliki sisi tajaman dan nama bagian, antara lain : papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada bagian perut) dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak). Selain bentuk karakteristik bahan kujang sangat unik cenderung tipis, bahannya bersifat kering, berpori dan banyak mengandung unsur logam alam.
Dalam Pantun Bogor sebagaimana dituturkan oleh Anis Djatisunda (996-2000), kujang memiliki beragam fungsi dan bentuk. Berdasarkan fungsi, kujang terbagi empat antara lain : Kujang Pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (sebagai alat upacara) dan Kujang Pamangkas (sebagai alat berladang). Sedangkan berdasarkan bentuk bilah ada yang disebut Kujang Jago (menyerupai bentuk ayam jantan), Kujang Ciung (menyerupai burung ciung), Kujang Kuntul (menyerupai burung kuntul/bango), Kujang Badak (menyerupai badak), Kujang Naga (menyerupai binatang mitologi naga) dan Kujang Bangkong (menyerupai katak). Disamping itu terdapat pula tipologi bilah kujang berbentuk wayang kulit dengan tokoh wanita sebagai simbol kesuburan
Mitologi
Menurut orang tua ada yang memberikan falsafah yang sangat luhur terhadap Kujang sebagai;
Ku-Jang-ji rek neruskeun padamelan sepuh karuhun urang
Janji untuk meneruskan perjuangan sepuh karuhun urang/ nenek moyang yaitu menegakan cara-ciri manusa dan cara ciri bangsa. Apa itu?
Cara-ciri Manusia ada 5
1. Welas Asih (Cinta Kasih),
2. Tatakrama (Etika Berprilaku),
3. Undak Usuk (Etika Berbahasa),
3. Budi Daya Budi Basa,
5. Wiwaha Yuda Na Raga ("Ngaji Badan".
Cara-ciri Bangsa ada 5
1. Rupa,
2. Basa,
3. Adat,
4. Aksara,
5. Kebudayaan
Sebetulnya masih banyak falsafah yang tersirat dari Kujang yang bukan sekedar senjata untuk menaklukan musuh pada saat perang ataupun hanya sekedar digunakan sebagai alat bantu lainnya.
Minggu, 21 Agustus 2011
Langganan:
Postingan (Atom)



