Senin, 15 Agustus 2011

Alat musik tradisional sunda karinding serta keunikanya







karinding adalah sebuah alat yang digunakan orang tua dulu sebagai alat untuk mengusir hama di sawah. sekarang digunakan anak muda sekarang sebagai alat musik karena menghasilkan bunyi . dan alat ini konon sebagai alat yang telah digunakan orang tua(karuhun) sejak jaman sebelum ditemukannya Kacapi, yang usia kecapi itu sendiri sudah mencapai lebih dari lima ratus tahun yang lalu, diperkirakan alat ini sudah lebih tua dari 600 tahun.
Jenis alat seperti Karinding ini adalah alat musik yang dimiliki oleh berbagai suku yang bukan hanya di tatar sunda, juga di daerah bahkan negara dan bangsa lain, seperti misal jenis ini di Jawa tengah disebutnya sebagai Rinding, dan di Bali dikenal sebagai Genggong. bahan dan suara yang dihasilkan hampir tidak ada bedanya,yang berbeda adalah cara memainkannya, ada yang di Trim (di getarkan dengan di sentir) dan di Tap ( dipukul).
Sedangkan alat sejenis di luar dikenal dengan istilah Zuesharp ( harpanya dewa Zeus).
Material yang digunakan (di wilayah jawa barat) untuk membuat karinding ini ada dua jenis, pelepah kawung dan Bambu, sedang Zeusharp menggunakan material besi dan baja.


Cara Memainkan Karinding
Cukup mudah untuk siapa saja, dengan cara di pukul memperlakukan alat ini seperti alat musik perkusi, dengan menggunakan satu jari tangan, dan ketika kita sudah mampu menghasilkan getaran secara intens,dengan di tempelkan di mulut sebagai resonansi nya, dan lidah sebagai pengontrol bunyi yang kita inginkan.
Ada beberapa jenis suara yang dihasilkan, yaitu dengan mulut kosong tanpa napas dan dengan menggunakan napas,ini akan menghasilkan bunyi yang berbeda. Alat ini bisa menghasilkan suara yang khas dari tiap orang, sebutlah jenis melodi, rhytm dan bass nya bisa di hasilkan, atawa kendang, saron, goong nya kata orang sunda mah, bahkan menyanyikan lagu dengan karinding sekalipun, bukan dengan vokal kita, ini tergantung bagaimana kita bisa memainkan lidah dan napas.
Yang menarik dari Karinding ini adalah, Pertama dengan cara di pukul ini mampu menghasilkan bunyi yang variatif cukup banyak. Kedua, suara tiap orang yang memainkan akan berbeda dengan yang lainnya, walaupun memainkan jenis pukulan (Rahel) yang sama , ini berbeda karena tiap orang memilki konstruksi mulut yang berbeda.

Karinding mampu menghasilkan suara yang bisa mengusir hama  !!
Suara yang dihasilkan berupa getaran yang tidak begitu jelas terdengar oleh telinga kita, secara ilmu suara di kategorikan pada jenis low desibel, yang getaran ini cuma bisa didengar oleh jenis binatang jenis insect, konon inilah yang dikenal sekarang sebagai suara ultrasonik.
Leluhur kita membuatnya sebagai alat pengusir hama (bagaimana mereka bisa mengitung sampai kesana?) dan supaya betah memainkan alat ini, maka di ciptakanlah alat yang sangat incredible ini, ya mengusir hama, ya bermain musik, ya asik.

Sabtu, 06 Agustus 2011

ASEP SUNANDAR SUNARYA



Jenis kesenian wayang golek memiliki fenomena tersendiri di dalam dunia kesenian. Keberadaannya masih terus dipertahankan agar tetap hidup sebagai salah satu khazanah Budaya Sunda, meskipun pementasannya dewasa ini sudah sangat langka dan terbatas pada tempat serta kesempatan tertentu saja.

Bila mendengar nama Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya, maka kita akan langsung dapat mengingat Kesenian Wayang Golek yang merupakan salah satu warisan paling berharga untuk dilestarikan. Nilai-nilai luhung Seni dan Budaya Sunda.

Wayang Golek versi Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya cenderung bergaya kontemporer.

Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya dilahirkan pada tanggal 3 September 1955 merupakan putera ke-7 dari 13 bersaudara putera-puteri Ki Dalang legendaris Abah Sunarya dengan Ibu Cucun Jubaedah.

Abah Sunarya merupakan pemilik sekaligus pendiri Perkumpulan Seni Wayang Golek Giri Harja. Selain Asep Sunandar Sunarya, anak Abah Sunarya lainnya yang berprofesi sebagai dalang adalah Ade Kosasih Sunarya, Iden Subasrana Sunarya, Ugan Sunagar Sunarya, Agus Muharam dan Imik Sunarya.

Asep Sunandar Sunarya yang memiliki nama kecil Sukana dalam perilaku kesehariannya sejak duduk di bangku SD sudah menampakan sosok pribadi yang kreatif dan dinamis dalam bergaul dengan sesama teman-temannya.

Selesai mengenyam pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) pada tahun 1968, Asep melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada masa-masa itu konsentrasi belajarnya banyak terganggu oleh hobinya mendalami ilmu pedalangan sampai lulus SMP tahun 1971.

Tekadnya untuk segera bisa mendalang termotivasi oleh ayahnya Abah Sunarya dan kakaknya Ade Kosasih Sunarya serta pamannya Lili Adi Sunarya. Selain itu juga Asep Sunandar Sunarya menimba ilmu pedalangan dengan belajar pada dalang Cecep Supriadi, dalang kondang dari Karawang.

Asep Sunandar Sunarya dengan cara bersungguh-sungguh mengikuti Penataran Dalang yang diselenggarakan RRI Bandung pada tahun 1972 dan tercatat sebagai Lulusan Terbaik.

Padepokan Giri Harja pada tahun 1987 diresmikan sebagai Pusat Belajar Seni Pedalangan oleh Menteri Penerangan RI yang pada saat itu dijabat Harmoko. Keberadaan Padepokan Giri Harja sangat berpengaruh terhadap prestasi, kreasi dan motivasi Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya sebagai Dalang Wayang Golek Kontemporer.

Pengalaman serta prestasi yang telah diraihnya diantaranya sebagai Juara Dalang Pinilih I Jawa Barat pada Binojakrama Padalangan di Bandung tahun 1978 dan tahun 1982. Sedangkan pada tahun 1985 Asep terpilih menjadi Dalang Juara Umum tingkat Jawa Barat dan memboyong Bokor Kancana.

Pengalaman Asep Sunandar Sunarya melakukan muhibah ke luar negeri tercatat pada tahun 1986 sebagai Duta Kesenian ke Amerika Serikat. Tahun 1993 Institut International De La Marionnete di Charleville Prancis meminta Asep Sunandar Sunarya sebagai Dosen Luar Biasa selama 2 bulan serta diberi gelar Profesor oleh Masyarakat Akademis Prancis. Terakhir pada tahun 1994 Asep melakukan pentas keliling negara-negara di kawasan Eropa.

Kehadiran Tokoh Dalang sekaliber Asep Sunandar Sunarya telah memberikan kontribusi bagi seni pedalangan khususnya Wayang Golek sebagai warisan seni dan budaya milik masyarakat Jawa Barat.

Konsep serta kreativitas pertunjukan Wayang Golek Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya telah memberikan warna dan gaya tersendiri.

Gaya pertunjukkan Wayang Golek Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya merupakan nuansa baru yang muncul di lingkungan Dinasti Sunarya. Hal yang paling menarik dan meruapakan ciri khas Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya ini adalah kepiawaiannya dalam mengolah gerak atau sabetan wayang dengan tampilan humor atau banyolan yang sentimentil, luwes dan segar.

Mengenai pegangannya pada Pakem Wayang dikaitkan dengan kreasinya yang disebut orang kontemporer seperti pada pertunjukkan wayang ketika dipukul kepalanya dapat mengeluarkan darah atau perkelahian antara Si Cepot dengan lawannya sampai “Buta” atau ketika lawannya mengeluarkan “mie”, Kang Asep mengemukakan bahwa hal itu tidaklah keluar dari pakem. Hal ini hanyalah merupakan suatu upaya visualisasi dengan cara memvisualkan cerita dalang-dalang terdahulu.

Rabu, 13 Juli 2011

"HALIK KU AING"

Bila Kita mengingat kembali Sejarah Besar Persib di Pentas Liga Terbesar dan Bergengsi di Indonesia ,tentu kita ingat sejarah yang tak akan terlupakan dan akan selalu tercatat di hati bobotoh yang menyaksikan "Sang Maung Bandung" yang Pertama kali Menjuarai Liga Indonesia, dengan goal semata wayang yang dilesakan oleh Sutiyono Lamso ke Gawang Petrokimia Putra, Peran dari Seorang Libero yang sangat tangguh dilapangan dan disegani lawan saat itu siapa lagi kalau bukan Kang Robby  Darwis lahir di Lembang 31 Oktober 1965 dengan nomer 6 sebagai nomer keramatnya.





Kang Robby memang di anugrahi bakat yang menjulang dan demikian pula dengan kepemimpinannya yang sangat menonjol. sebagian besar waktu karirnya dihabiskan dengan menjadi Kapten di Klub maupun di TimNas Indonesia yang dijuluki Macan Asia dan disegani saat itu. Kang Robby sempat memperkuat timnas Indonesia sebanyak 53 kali dan mencetak 6 Gol, dan juga ikut mempersembahkan piala emas SEA GAMES pada tahun 1987 dan di tahun 1991 juga beliau juga pernah menjuarai piala Sultan Hasanah Bolkiah pada tahun 1986 , sebelum gantung sepatu pada tahun 1997 setelah mengabdi selama 10 tahun. Gelar Pemain Terbaik Indonesia diraih pada tahun 1987 dan Kang Robby Darwispun kembali Dianugrahi sebagai pemain Legendaris Indonesia pada Final Copa Indonesia tahun 2007.

Robby Darwis Memang ditakdirkan untuk menjadi Seorang Legendaris dan Bintang sepakbola di negeri ini ,Bakatnya terlihat oleh seorang Pelatih Berkebangsaan Polandia yang bernama Marekz Janota di awal tahun '80-an, Bentangan jalan karir seakan terhampar Mulus untuknya. Beliaupun tumbuh di Atmosfer sepak bola Bandung yang sudah dikenal oleh dunia sebagai Atmosfer sepakbola terhebat se Indonesia, bersama rekannya Kang Adjat Sudrajat , kang Robby mewakili generasi persib yang paling mencorong di Pertengahan '80-an dan '90-an.
Sangatlah tidak berlebihan jika Kang Robby darwis dianggap sebagai wakil generasi Emas Persib yang paling bercahaya. Setidaknya jika Kiprah di Timnas dijadikan Parameternya. Total 10 tahun (1987-1997) beliau mengenakan Seragam Merah Putih dan sebagian besar waktu karir di Timnas ia lalui sebagai Seorang Kapten.





Kiprahnya menjejakan Kesan tersendiri bagi publik bola Bandung. Sebab, setelah ia Pensiun tidak ada lagi pemain persib yang dipercaya menjadi Pemanggul Komando di Timnas.Tak heran bila sampai saat ini nama Kang Robby Darwis selalu dipersonifikasikan dengan Romantisme Kejayaan Persib tempo dulu.
Tidak ada pemain yang punya karakter yang khas dan kuat seperti Kang Robby. Karakternya semasa aktif membela panju tim Pangeran Biru maupun timnas sangat identik dengan "tukan sapu bersih" kepemimpinannya di lapangan Hijau saat di hormati oleh semua pemain yang berada dibawah komandonya. tidak ada satu orang pemain yang berani untuk menampik perintahnya, pekikan kata HALIK KU AING pun sohor menjadi salah satu kata penyemangat untuk menyulut semangat para punggawa persib yang berada di bawah performa terbaiknya, kata HALIK KU AING memilki makna yang dalam bagi publik bola Bandung khususnya bobotoh Persib, Bobotoh percaya bila kang Robby telah mengeluarkan Kata-kata tersebut beliau akan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mencetak Goal ke gawang lawan, padahal kita tahu dia adalah seorang libero, kesempurnaan Kang Robby Darwis tidak akan bisa terlupakan khususnya oleh Bobotoh Persib.

sebuah pengakuan yang sangat wajar, mengingat persib sempat menancapkan kukunya dengan amat dalam di altar sepak bola nasional semasa Kang Robby Masih aktif, bersama koleganya di generasi emas Persib, tiga gelar juara perserikatan dan satu trofi liga Indonesia ia persembahakan untuk para Bobotoh.
Kang Robby menganggap keempat gelar itu sama-sama mengesankan gelar di kancah perserikatan yang direbut pada musim 1985-86, dianggap sebagai gerbang presatasi generasi emas persib. Keberhasilan itu terasa sangat berarti karena sebelumnya tim pangeran Biru sempat merasakan pahitnya terlempar ke Divisi 1 pada tahun 1978.

Gelar yang sekaligus juga mengakahiri masa paceklik prestasi selama 25 tahun." sedangkan gelar juara perserkatan 1989-90 menjadi jawaban atas kegagalan generasi emas pada tiga musim setelah merebut gelar pertama.


Tahun 1991 kang Robby sempat pindah ke klub Malaysia Kelantan FC. Namun aral tak dapat diduga , baru sekali bertanding beliau terkena sanksi tidak boleh bermain selama satu tahun, banyak pihak di Indonesia hal ini dilakukan Malaysia karena tidak ingin Kang Robby bertanding di SEA GAMES 1991 akan tetapi Kang Robby tetap bermain dan Indonesia menjadi Juara, selapas dari Malaysia Kang Robby kembali membela Persib sampai tahun 1997 dan menutup Karirnya sebagai sebagai Pesepakbola yang disegani di Pentas Sepak Bola Nasional Bersama Persib Bandung.

Kang Robby Darwis Beristrikan Suci Guntari saudara mantan tandemnya di Persib Bandung Yaitu Kang Yudhi Guntara dan dikaruniai 4 orang anak yaitu Canigia Fikri Robiana, Careca Raka (alm), Ratu Najra yang sering dipanggil Bulan dan Ratu najdah yang sering dipanggil Bintang. Kang Robby berprofesi sebagai pegawai bank BNI 46 Bandung tetapi cuti untuk menjadi asisten pelatih Persib (memiliki lisensi B) dan sekarang sedang mengikuti Kursus Lisensi A , sebelumnya Kang Robby sempat melatih ProDuta selama 2 musim yang sekarang telah pindah ke Jogjakarta dan melatih Persikab kabupaten Bandung.

Dan kecintaan Kang Robby Darwis pada Sepakbola tidak hilang begitu saja , beliau mendirikan sekola sepak bola yang diberi nama SSB Robby Darwis di daerah kelahirannya Lembang dengan obsesi ingin melahirkan  pemain-pemain yang berkualitas yang pada saatnya akan memperkuat Persib dan Timnas mengikuti Jejaknya dahulu.

Senin, 11 Juli 2011

SEJARAH VIKING PERSIB CLUB

Melihat rangkaian sejarah perjalanan Viking Persib Club, maka para Vikers (anggotanya) akan selalu bercermin pada perjalanan Persib Bandung dalam mengarungi Samudra kompetisi sepakbola Indonesia, baik pada saat Kompetisi Perserikatan maupun pada saat Liga Indonesia.Berawal dari perjalanan prestasi “Sang Maung Bandung” yang begitu membanggakan dan menggetarkan dunia persepakbolaan Indonesia, khususnya pada dekade 1985 hingga dekade 1995, dimana Persib mampu memberikan suatu kebanggaan kepada para pencintanya, dengan tampil lima kali berturut-turut pada partai final Piala Presiden (Perserikatan kala itu), dan tiga kali diantaranya Persib berhasil tampil sebagai “Kampioen”, yang kemudian berlanjut dengan merebut gelar “Juara” untuk pertama kalinya pada kompetisi format baru, yaitu Liga Indonesia. “Totalitas” yang telah diberikan oleh Persib kepada para pencintanya, kemudian dijawab kembali dengan “Totalitas” oleh sekelompok Pendukung Fanatik Persib yang kala itu sering menempati Tribun Selatan Stadion Siliwangi. Tercetuslah ide untuk membentuk sebuah kelompok Bobotoh demi melestarikan dan menjaga kebesaran nama Persib,disamping untuk menyatukan aspirasi serta kesamaan rasa cinta kepada “Sang Idola” Persib Bandung. Melalui beberapa kali pertemuan yang cukup alot dan memakan waktu, akhirnya terbentuklah sebuah kesepakatan bersama. Tepatnyapada Tanggal 17 Juli 1993, disebuah rumah dibahu jalan Kancra no. 34, diikrarkanlah sebuah kelompok Bobotoh dengan nama ….. VIKING PERSIB CLUB. Adapun pelopor dari pendiriannya antara lain ; Ayi Beutik, Heru Joko, Dodi “Pesa” Rokhdian, Hendra Bule, dan Aris Primat dengan dihadiri oleh beberapa Pioner Viking Persib Club lainnya, yang hingga kini masih tetap aktif dalam kepengurusan Viking Persib Club. Nama VIKING diambil dari nama sebuah suku bangsa yang mendiami kawasan skandinavia diEropa Utara. Suku bangsa tersebut dikenal dengan sifat yang keras, berani, gigih, solid, patriotis, berjiwa penakluk, pantang menyerah, serta senang menjelajah. Karakter dansemangat itulah yang mendasari “Pengadopsian” nama VIKING kedalam nama kelompok yang telah dibentuk. Secara demonstratif, Viking Persib Club pertama kali mulai menunjukan eksistensinya pada Liga IndonesiaI — tahun 1993, yang digemborkan sebagai kompetisi semi professional pertama di Tanah Air kita. Slogan “PERSIB SANG PENAKLUK” begitu dominan terlihat pada salah satu atribut yang dipakai anggotanya. Perjalanan waktu, kebersamaan,hubungan pertemanan, serta kesamaan rasa cinta yang telah terbina, pada akhirnya telah menjadikan Viking Persib Club sanggup bertahan hingga saat ini, bahkan semakin berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah nusantara. Idealisme Viking Persib Club Viking Persib Club adalah sebuah kelompok bukanlah organisasi atau fans club dengan segala aturan-aturan formal yang mengikatnya.Setiap anggota atau Vikers adalah bagian dari sebuah “Keluarga”, …. Dan layaknya sebuah Keluarga, keberagaman sifat dan tingkah laku yang berada didalamnya adalah merupakan sesuatu hal yang lumrah, dan Viking akan selalu berusaha untuk mengakomodir keberagaman tersebut. Kelompok Suporter dapat dikatakan sebagai kelompok sosial, karena didalamnya terdapat sekumpulan individu yang berinteraksi secara bersama-sama serta memiliki kesadaran keanggotaan yang didasarkan oleh kehendak dan prilaku yang disepakati. Seperti kebanyakan kelompok-kelompok Bobotoh lainnya yang turut terlahir sama seperti halnya Viking Persib Club, yaitu secara Grass Root (dari arus bawah), maka Viking Persib Club memiliki cara atau cirri khas dalam menyikapi setiap permasalahan anggotanya. Hubungan pertemanan dan kekeluargaan yang tulus, erat tanpa pamrih serta rasa persaudaraan yang tinggi menjadi modal yang kuat bagi VIKING untuk terus eksis selama beberapa dekade. Keanggotaan Viking Persib Club yang semakin besar, jelas menuntut sebuah tanggung jawab serta pengaturan yang sedemikian rupa secara professional, agar dapat lebih terukur dari segi pendataan, keuangan, rutinitas maupun manajerial, yang tentu saja membawa dampak tanggung jawab yang sangat besar bagi kepengurusan Viking Persib Club. Namun tentu saja semua formalitas tersebut tidak akan menghilangkan warna, ciri khas serta karakter Viking Persib Club. “Viking tetaplah Viking! Dia harus bercirikan kedekatan yangtulus antar anggotanya dan berkarakter sebagai sebuah keluarga ataupun geng” Viking Persib Club murni lahir secara independen berdasarkan inisiatif dari para Bobotoh dari golongan grass root. Dalam pandangan Viking, supporter tidak hanya berperan sebagai “tukang sorak” saat menyaksikan dan mendukung kesebelasan kesayangannya, tetapi peran supporter harus lebih dari itu! Dia harus menjadi pembangkit semangat saat tim kesayangannya jatuh bangun menunaikan tugasnya dilapangan.Supporter juga harus menjadi kekuatan tambahan bagi para pemain dilapangan, …… intinya, supporter harus menjadi pemain ke-12! Dan VIKING ingin menjadi pemain ke-12 bagi PERSIB. Pada saat ini, …… ketika sepakbola sudah menjadi industri, Peranan Bobotoh buat PERSIB pun menjadiberkembang tidak hanya sebagaiobjek pelengkap saja. Bobotoh seharusnya menjadi bagian dari prestasi dan keberhasilan yang dicapai oleh PERSIB. Berangkat dari sana, ….. Viking Persib Club pun mulai mengembangkan sayapnya dalam berbagai bentukaktualisasi diri, mulai dari peningkatan pengkoordiniran massa dengan dibentuknya “distrik” di berbagai wilayah pada kantung-kantung Bobotoh,Penjualan Merchandise, pembuatan album kompilasi Persib, hingga tour organizer yang menyelenggarakan pemberangkatan rombongan Bobotoh ketika mendukung PERSIB apabila bermain tandang. Kepemimpinan & Kepengurusan Viking Persib Club Sejak awal berdirinya hingga saat ini, ….. Viking Persib Club diketuai oleh Heru Joko, dengan Panglima — Ayi Beutik. Pertanyaan yang muncul, ……. Mengapa harus ada figur panglima? Jawabannya singkat saja, karena Bobotoh terikat secara emosional, dan mereka mengikatkan diri kepadaPERSIB dan juga kepada sesama pendukung Persib. Kata Panglimadisini adalah sosok “Ibu” dalam keluarga, pengasuh bagi anak-anaknya, sosok yang memimpin serta melindungi para anggota apabila terjadi sesuatu dilapangan. Sedangkan jabatan Ketua Umum yang disandang Heru Joko, adalah sebagai figurekharismatik yang memiliki fungsi politis keluar organisasi atau kelompok lain. Lain halnya dengan Yoedi Baduy yang menjabat sebagai Sekretaris Umum, ia mengelola dan mengkoordinir segala bentuk kegiatan secara administratif. Bisa dikatakan ketiganya adalah pemimpin atau leader Viking Persib Club, yang tentu saja ditopang oleh pentolan-pentolan Viking Persib Club yang lainnya, seperti ; Yana Ewok, Asep “Ucok”, Yana Bool (Mr. Y), Dadan Gareng, Boseng, Odoy, Pesa dan Hendra Bule. Dan yang tak kalah pentingnya lagi, …… kontribusi Distrik-distrik Viking Persib Club yang saat ini sudah tersebar diberbagai wilayah , seolah menjadi elemen penting lainnya bagi pendobrak berkembangnya Viking Persib Club dewasa ini. ( viking cyber )

Senin, 14 Maret 2011

SUKU BADUY

Tenun Baduy memang belum setenar tenunan dari wilayah lainnya di Indonesia, seperti tenun songket. Padahal, tenun Baduy tak kalah uniknya dengan kain khas Nusantara lainnya dan disukai hingga ke mancanegara. Sejumlah komunitas tenun nusantara pun mulai melirik tenun Baduy untuk dijadikan bahan baku fashion.
Tenun Baduy yang memiliki kekhasan unik baik dari segi bahan maupun warnanya, ternyata juga sudah pernah masuk ke pasar Eropa dan Timur Tengah, konon dari hasil tenun yang terbuat dari benang kapas warna hitam atau hitam bergaris putih, dan tekstur kainnya yang kasar, justru membuat peminat merasa nyaman dan cocok dengan cuaca di Eropa dan Timur Tengah.Walaupun kuantitas yang dipasarkan ke Eropa dan Timur Tengah masih tidak sebanding dengan permintaan pasar. Namun melihat kenyataan demikian temyata tenun Baduy asli Banten banyak digemari
Kini tenunan baduy mulai sedikit ada perubahan. Dahulu ukuran tenun baduy itu lebarnya hanya 90 centimeter, kini bisa dibuat sampai 150 centimeter. Kalau panjangnya kan ukuran sepanjang-panjangnya
Dengan ukuran yang baru tersebut, tenun baduy dapat dengan mudah dikreasikan menjadi produk fashion yang lebih bernilai tambah. Karena ternyata produk fashion berbahan baku tenun baduy juga dimulai diminati masyarakat luas. Selain program pembinaan, yang bisa dilakukan Disperindang Banten yakni segera mendaftarkan karya tenun Baduy Banten sebagai hak paten milik dan karya budaya asli Suku Baduy Banten.

Konformitas dalam Bentuk Penampilan

Konformitas dalam bentuk penampilan akan terlihat pada pakaian dan tampilan keseharian orang Baduy, serta permukiman atau rumah orang Baduy.
a) Pakaian dan tampilan keseharian orang Baduy. Pakaian Baduy Dalam berwarna putih dan hitam. Bahannya dibuat sendiri dari serat daun pelah yang ditenunkan oleh warga panamping. Lelaki tangtu menutupi tubuhnya dengan tiga bagian, yaitu: (1) ikat kepala berwarna putih (kecoklatan) yang sering disebut iket, telekung atau romal terbuat dari kain berbentuk segitiga, (2) baju berwarna putih, (3) sejenis kain sarung dengan panjang sekitar 30-40 cm, berwarna biru tua.
Baju yang dikenakan berlengan panjang, seperti kaos, tanpa kerah dan kancing. Sejenis kain sarung yang berfungsi sebagai penutup tubuh bagian bawah disebut aros, biasa dikenakan dengan cara dililitkan di pinggang kemudian diikat memakai tali dari kain, mirip ikat pinggang dengan ukuran sampai lutut. Lelaki Baduy Dalam (tangtu) tidak mengenakan celana dalam.
Adapun pakaian perempuan tangtu terdiri dari (1) kemben ’sejenis selendang’ yang digunakan untuk menutup tubuh bagian atas atau baju kaos dan (2) lunas atau kain untuk menutupi tubuh bagian bawah. Seringkali di kalangan orang tua, hanya menggunakan kain lunas saja. Perempuan tangtu juga tidak mengenakan pakaian dalam.
Pakaian Baduy Luar juga terdiri dari tiga bagian, (1) ikat kepala, (2) baju, dan (3) kain sarung atau calana komprang, sejenis celana pendek berukuran sebatas lutut. Warna khas pakaian warga panamping adalah hitam dan biru tua bermotif batik atau bergaris putih. Kain pakaian yang digunakan biasanya datang dari luar Baduy, seperti dari pasar Rangkasbitung, Tanah Abang Jakarta atau daerah lain yang kemudian di jahit dan ditenun sendiri.
Pakaian disebut jamang komprang atau mirip dengan baju orang tangtu hanya saja berkancing dan biasa memakai dua lapis, bagian dalam berwarna putih alami, sedangkan bagian luar berwarna hitam atau biru tua. Calana komprang yang dikenakan laki-laki Baduy Luar juga berwarna hitam atau biru tua.

Adapun pakaian perempuan Baduy Luar adalah kebaya berwarna biru dan kain dengan warna yang sama. Bahan pakaiannya juga diperoleh dari luar daerah. Namun, pakaian pada orang panamping baik lelaki maupun perempuan, hampir serupa dengan pakaian yang digunakan oleh masyarakat pedesaan di Banten umumnya. Keseragaman orang Baduy dalam berpakaian ini dilakukan karena:
Pertama, merupakan ajaran dari leluhur harus seragam. Kedua, ciri khas kelompok, kalau tidak seragam nanti tertukar antara orang Baduy dengan orang non Baduy dan intinya jangan sampai menyerupai penampilan orang luar. Ketiga, warna hitam-putih sebagai lambang dari waktu malam dan siang. Artinya manusia itu jangan terlalu banyak pikiran, sebab alam saja hanya ada dua pilihan: malam atau siang; ada senang, ada susah; ada gelap ada terang, dan itu abadi.
Baik orang tangtu maupun panamping tidak beralas kaki, hal ini dilakukan karena: Pertama, ketentuan mutlak leluhur jadi harus seragam. Kedua, kalau pakai alas kaki, nanti menghilangkan ciri khas Baduy. Ketiga, kondisi geografis dapat membuat alas kaki cepat putus, dan karena hutan, pakai alas kaki juga percuma karena kaki akan tetap kotor. Keempat, merasakan alam karena menggambarkan keseimbangan dan kelestarian alam

b) Permukiman orang Baduy. Berdasarkan observasi, rumah orang Baduy nampak seragam. Semua terdiri dari kayu, bambu, kiray “daun rumbia”, ijuk pohon aren, rotan dan batu yang diperoleh dari alam sekitar.
Permukiman masyarakat Baduy berbentuk panggung, oleh karenanya terdapat kolong antara lantai rumah dan tanah dengan ketinggian antara 50-70 cm untuk rumah di panamping dan 70 cm-1,5 meter untuk rumah di tangtu. Rumah orang Baduy besarnya sekitar 7X5 meter pada umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu sosoro dan tepas ’bagian luar’, imah dan musung ’bagian tengah’, serta parak ’bagian dapur’. Semuanya disekat dengan bilik. Lebih jelasnya rumah orang Baduy memeiliki ciri: 1) selalu menghadap utara-selatan, 2) tidak menggunakan tembok, kaca, dan paku, 3) tidak ada jendela. Untuk sirkulasi udara dan penerang ruangan, hanya terdapat lubang kecil pada bilik dinding rumahnya, 4) tidak memiliki pagar pembatas halaman rumah, 5) di tangtu atau Baduy Dalam, lahan yang digunakan membangun rumah tidak diratakan terlebih dahulu sehingga konstruksinya disesuaikan dengan struktur tanah. 6) di panamping atau Baduy Luar, tanah yang digunakan untuk membangun rumah, diratakan terlebih dahulu.